Aku gembira dengan kehidupan ku masa ini tetapi jauh di sudut hati ini masih lagi terkenang akan si dia. Perasaan bersalah semakin memamahku walau pada zahirnya aku ketawa. Suami dan anak ku sedang bermain di tepian pantai dan ini mengenangkan ku kembali saat indah bersama si dia. Sungguh aku amat menyintainya tetapi aku hanya seorang wanita yang tiada berdaya untuk melawan kehendak keluarga. Aku mengejar cita-cita ku dahulu dan mengorbankan masa yang lama demi untuk masa hadapan kami berdua. Pernah aku suarakan niat ku kepadanya tentang pembelajaran ku tetapi walau mulutnya mengizinkan aku pergi, jauh di lubuk hatinya ingin aku tinggal di sini bersamanya. Seandainya pada ketika itu dia dapat merasa apa yang aku rasai, sudah pasti aku akan tetap berada di sini dan mungkin saja bertemu jodoh di anatara kita berdua. Ayah dan ibu pernah mengingatkan ku tentang si dia dan mengatakan dengan Cuma hanya berkerja sebagai tukang masak, ianya masih belum mampu untuk menyara hidup kami berdua. Perkara ini tidak pernah aku nyatakan kepadanya kerana tidak ingin menyinggung hati dan perasaannya. Bagiku perkerjaannya itu bukanlah suatu halangan untuk kami bersama. Apabila aku melihat wajah anak ku Daniel, di mataku akan terkenang si dia. Peragainya yang lucu dan menciut hati kadang kala menjadi penghibur hatiku yang duka ini. Apabila aku berada dalam keadaan yang sukar, si dia sering membuatku ketawa. Ada kalanya tingkah dan gurau sendanya itu mengingatkan aku kepada Daniel. Di pantai inilah kami mula meluahkan perasaan masing-masing. Lidahku kaku untuk mengatakan luahan isi hatiku kepadanya lantas aku Cuma menganggukkan kepala ku. Di sinilah cinta kami mula mekar dan berbunga. Hari ini 17 May, aku sengaja membawa suami dan anak ku ke mari cuma untuk merista kembali kenanganku bersama si dia. Tetapi hatiku merasa bersalah kepadanya. Aku bagaikan telah menkhianti cinta kami. Yang sebenarnya aku menikahi Rizal bukan atas kemahuanku tetapi atas desakan keluarga. Jangan kata aku menyalahkan semuanya kepada keluargaku tetapi apa yang mereka lakukan itu adalah untuk kebaikan ku jua. Pada mulanya aku enggan menerima Rizal tetapi aku juga merasa serba salah pada masa yang sama. Aku mengenalinya sewaktu belajar di luar negara dan kebetulan keluargaku dan juga keluarganya saling kenal rapat lalu menjodohkan kami berdua. Apabila tamat pembelajaranku selang berberapa minggu kami pun bernikah. Perwatakan Rizal juga tidak ubah seperti si dia. Hanya pada hari pernikahan itu sajalah aku memberi si dia peluang untuk membela cinta kami. Sejujurnya aku melihat dia hadir di hari pernikahanku itu, tapi aku tidak bersuara. Entah kenapa pada hari itu aku merasa ingin lari dari semua ini namun aku berdoa agar dia menyuarakan cintanya. Malangnya doa ku tidak terkabulkan, wajahnya hilang begitu saja tanpa berkata apa-apa. Sungguh aku kesal tetapi mungkin saja jodoh di antara kita berdua sudah tiada. Hari ini adalah hari terakhir aku datang ke pantai ini. Cuma saja aku berharap dikau bahagia di sana bersama hidup mu tanpa ku. Senja semakin dekat, kami pun berpenyap hendak pulang apabila perasaan hatiku ini terasa seakan-akan ada seseorang yang memerhatikan kami dari jauh. Aku menoleh ke kanan dan di sana aku melihat kelibat seseroang yang sedang melihat ke arah kami. Hati ku bergetar seperti aku mengenalinya. Daniel memanggil namaku yang mana mereka sudah menungguku di tempat letak kereta. Apabila aku menoleh kembali ke arah yang sebelumnya, kelibat itu tiada lagi berdiri di hujung sana. Adakah itu si dia? Kenapa hatiku merasa bergetar? Cinta dan kasihku kini sudah dimiliki oleh orang lain tetapi seandainya engkau masih merinduiku, relakan aku pergi dan maafkan diriku kerana ini saja yangku minta darimu.
OLEH: M.N.ABDULLAH @ KARMA JUMANTARA
No comments:
Post a Comment