Monday, 8 December 2014

KISAH SEEKOR BURUNG



Seekor burung kehilangan teman
Di suatu tempat bersama pilu
Dengan setia ia menanti
Walau embun semakin mendingin
Seandainya ia tahu
Bagaimana waktu dapat di ganti

Dalam perjalan yang tidak pasti
Ia merasa kehilangan
Ia berhenti mendendangan siulan merdu
Kini ia terbang sendiri
Setiap pagi hanya terdengar siulan penuh kesedihan
Ia berselindung di antara rapuhnya kayu.

Hari ini ia datang
Tapi bersama teman baharu
Bermain dan berseloka bersama
Alangnya indahnya hidup kita siang dan malam
Walaupun sedih datang bertalu

Akhirnya akan membawa makna.

Sunday, 7 December 2014

ATLANTIS


Di manakah hilangnya Atlantis?
Setiap manusia mencarimu
Wahai pulau legendaris
Manakah terpahatnya riwayatmu?

Adakah engkau berselindung disebalik menara Herakal?
Ataupun engkau hilang dimamah waktu?
Hingga kini menjadi persoalan
Sejarahmu kekal terpahat menjadi debu.

Tuesday, 25 November 2014

TERPUKAU



Perjalanan di antara lereng bukit bukau
Yang mana denainya bertapak sumur yang mengalir dengan tenang
membuat diriku terpukau.

Burung-burung kecil
Saling berterbangan
Sepertinya sedang mengiringi perjalanan ini.

Kaki langit terbentang indah
Serupa sebuah lukisan dan secantik warkah.

Apakah suasana sebegini akan dapat aku nikmati...
Pada esok hari?
Pada esok lusa?
Bahkan hingga ke petang nanti?

Semak samun yang berwarna hijau
Menyelimuti kuningnya tanah yang liat
Di atasnya hinggap seekor pipit
Sedang menanti pasanganya tanpa risau.

Jauh dari pemandangan ini
Dapat aku lihat puncak bukit
Sepertinya sedang berlumba mencapai perut awan nan putih
Sesungguhnya inilah erti harmoni

Mentari pula sebaliknya
Memancar sinar harapan
Menabur kesuburan pada wajah kita yang berduka.

Tanyalah pada diri sendiri
Siapakah pencipta kesemua keindahan ini
Biarlah mata hati menjadi saksi
Hatta bukan pula mata yang melekat pada lambaian duniawi.

Friday, 21 November 2014

ANAK BOSNIA

Kasihan dia
Anak Bosnia
Mejalani hidup bersendirian
Di celah-celah bangkai bangunan.

Tiada redup simpati untuk berteduh
Kerana keluarganya sudah tiada
Siang dan malam berulamkan hati yang sedih
Dia memilih untuk lebih cekal dan terus berusaha.

Hebatnya dia
Anak Bosnia
Kini sudah menjadi seorang syahid
Semoga di tempatkan bersama-sama mereka yang bertauhid. 

Monday, 13 October 2014

Gadis desa



Di bawah terik mentari
Di sebuah sawah nan indah
Jauh dari riuhnya ibu kota
Seorang gadis desa menawan sang hati
Melakar khayalan diperbatasan sawah

Angin yang berpuput lembut
Menenangkan suasana resah gelisah
Bila ku tahu hati ini sudah terpaut
Bisikan hati melakar madah.



Sunday, 12 October 2014

Pengamen suci



Pengamen suci
Menyanyi 
Bersyair
Menari
Tapi sedihnya...
Mereka tidak dipandang
Tidak dihormati
Tidak dikasihi
Mereka enggan meminta
Tapi mereka sering berusaha.

Friday, 3 October 2014

The hunt for redemption: A John Marston story

Where he goes
The winds blows
Into the sunset
He rides

Through the valley
Where thousand man sail the sea
And the lands are dusty
Hunting for redemption through glory





Thursday, 25 September 2014

Hikayat di bahtera Jumantara 2

Angin utara kini meniup ke arah selatan
Membawa bahtera jauh dari destinasi
Dalam perlayaran yang menguji kesabaran
Di sini aku melakar puisi.

Lautan yang dahulunya aku puja
Kini gundah bergelora
Sinaran bulan yang dahulunya menjadi arah tujuan
kini sudah menghilang tanpa bayangan.

Hari demi hari
Lautan kian menganas
Menampar bahtera tanpa henti.

Kini semuanya diperjudikan
Segala usaha telah aku lakukan
Doa dan ikhtiar jua aku berpaut
Demi Tuhan
Aku mohon redakanlah ombak yang kian menganas ini.


Sunday, 31 August 2014

KATAK DI PINGGIR

Katak di pinggir
Berehat disiang hari
Menanti rezeki
Berdiam diri

iada usahanya
Hanya tahu menanti
Walau sihat upaya
Kekal menyendiri

Hidup jangan terlompat-lompat
Nanti akan jatuh ke gaung
Lalui hidup walau ianya lambat
laluilah dengan senyum dan riang

Monday, 7 July 2014

MALU UNTUK MEMINTA

Adakalanya aku malu untuk berdoa
Bukan aku tak mampu
Bukan pula aku menipu
Tapi aku dilumuri dosa

Kita memohon pada-Nya
Tapi jarang memenuhi suruhan-Nya
Wajarkah kita meminta berlebihan
Di manakah letak malu terhadap-Nya
Jantung dan nadi yang berdegup
Umpama ungun yang bila-bila akan terpadam
Bila ia berhenti berdegup
Tiadalah erti doa insan
Kita hadir di bumi ini
Tiada harta mahupun senjata
Namun Allah maha kaya maha mengetahui
Kita dibekali doa sebagai senjata
Ketuklah dada ini
Tanya adakah aku layak pada syurga-Mu
Atau mampukah menahan seksa neraka nanti
Jawabnya ada pada diri sendiri

Friday, 4 July 2014

MENCARI KASIH DAN RINDU



Seorang ibu berkelana jauh bersama anaknya
Kampung halaman ditinggalkannya
Hanya berbekal doa dan harapan
Agar bertemu sang suami yang jauh dari pandangan.

Terasa hangat mentari memancar
Dahi pula dibasahi peluh yang mengalir
Dahaga lapar dikemudiani
Demi rasa ingin bertemu suami.

Didalam kekalutan ibu kota yang tak menentu
Mereka bagai hilang arah dan hilang tempat di tuju
Di mana sang suami berada
Tak siapa pun yang tahu mengenainya.

Sang suami menghilang tanpa khabar berita
Meninggalkan duka dan derita
Ke mana perginya?
Di mana tujuannya?
Hanya ketentuan Illahi sahaja yang dapat menyatukan mereka.

Sunday, 22 June 2014

Sekuntum Bunga

Assalamualaikum...

Kenapa tiada lagi sorotan puisi di dalam blog ini? Sebenarnya bukanlah saya malas ataupun tidak ada ilham tetapi ada masanya kita berhenti sejenak sambil mengumpulkan ilham yang ada dan merenung akan dunia yang kita lalui sekarang. Tiada memuatnaikan sebarang puisi bukan bererti sudah tiada berminat tetapi sebaliknya mencari dan belajar tentang kehidupan seharian. Insha Allah jika semua sudah terkumpul nanti akan saya curahkanya di dalam blog ini. Sekuntum bunga ada masanya luruh, ada masanya tidur, dan apabila ia kembali, ia akan kembali dengan penuh kecantikan.
Wassalam

Thursday, 2 January 2014

Tercicir

Pada 2013
Harapan dan impian
Ku simpan rapi di dalam kantong

Pada 2013
Di antaranya tercicir
Dalam perjalanan hidupku

Cir...
       Tercicir...
                      Cicir...
                                Cir...

Ada yang masuk ke gaung
Ada yang menyusup keluar pada saku yang bolong
Ada pula tenggelam di lautan yang berang

Kini 2014
Aku masih berkelana
Memutik harapan dan impian yang kian tercicir

Cir...
       Tercicir...
                      Cicir...
                                Cir...