Adakalanya aku malu untuk berdoa
Bukan aku tak mampu
Bukan pula aku menipu
Tapi aku dilumuri dosa
Kita memohon pada-Nya
Tapi jarang memenuhi suruhan-Nya
Wajarkah kita meminta berlebihan
Di manakah letak malu terhadap-Nya
Jantung dan nadi yang berdegup
Umpama ungun yang bila-bila akan terpadam
Bila ia berhenti berdegup
Tiadalah erti doa insan
Kita hadir di bumi ini
Tiada harta mahupun senjata
Namun Allah maha kaya maha mengetahui
Kita dibekali doa sebagai senjata
Ketuklah dada ini
Tanya adakah aku layak pada syurga-Mu
Atau mampukah menahan seksa neraka nanti
Jawabnya ada pada diri sendiri
Monday, 7 July 2014
Friday, 4 July 2014
MENCARI KASIH DAN RINDU
Seorang
ibu berkelana jauh bersama anaknya
Kampung
halaman ditinggalkannya
Hanya
berbekal doa dan harapan
Agar
bertemu sang suami yang jauh dari pandangan.
Terasa
hangat mentari memancar
Dahi
pula dibasahi peluh yang mengalir
Dahaga
lapar dikemudiani
Demi
rasa ingin bertemu suami.
Didalam
kekalutan ibu kota yang tak menentu
Mereka
bagai hilang arah dan hilang tempat di tuju
Di
mana sang suami berada
Tak
siapa pun yang tahu mengenainya.
Sang
suami menghilang tanpa khabar berita
Meninggalkan
duka dan derita
Ke
mana perginya?
Di
mana tujuannya?
Hanya
ketentuan Illahi sahaja yang dapat menyatukan mereka.
Sunday, 22 June 2014
Sekuntum Bunga
Assalamualaikum...
Kenapa tiada lagi sorotan puisi di dalam blog ini? Sebenarnya bukanlah saya malas ataupun tidak ada ilham tetapi ada masanya kita berhenti sejenak sambil mengumpulkan ilham yang ada dan merenung akan dunia yang kita lalui sekarang. Tiada memuatnaikan sebarang puisi bukan bererti sudah tiada berminat tetapi sebaliknya mencari dan belajar tentang kehidupan seharian. Insha Allah jika semua sudah terkumpul nanti akan saya curahkanya di dalam blog ini. Sekuntum bunga ada masanya luruh, ada masanya tidur, dan apabila ia kembali, ia akan kembali dengan penuh kecantikan.
Wassalam
Kenapa tiada lagi sorotan puisi di dalam blog ini? Sebenarnya bukanlah saya malas ataupun tidak ada ilham tetapi ada masanya kita berhenti sejenak sambil mengumpulkan ilham yang ada dan merenung akan dunia yang kita lalui sekarang. Tiada memuatnaikan sebarang puisi bukan bererti sudah tiada berminat tetapi sebaliknya mencari dan belajar tentang kehidupan seharian. Insha Allah jika semua sudah terkumpul nanti akan saya curahkanya di dalam blog ini. Sekuntum bunga ada masanya luruh, ada masanya tidur, dan apabila ia kembali, ia akan kembali dengan penuh kecantikan.
Wassalam
Thursday, 2 January 2014
Tercicir
Pada 2013
Harapan dan impian
Ku simpan rapi di dalam kantong
Pada 2013
Di antaranya tercicir
Dalam perjalanan hidupku
Cir...
Tercicir...
Cicir...
Cir...
Ada yang masuk ke gaung
Ada yang menyusup keluar pada saku yang bolong
Ada pula tenggelam di lautan yang berang
Kini 2014
Aku masih berkelana
Memutik harapan dan impian yang kian tercicir
Cir...
Tercicir...
Cicir...
Cir...
Monday, 30 December 2013
Palsu
Apa yang kita genggam
Semuanya nyata
Apa yang kita lihat
Semuanya nyata
Apa yang kita rasa
Semuanya nyata
Apa yang kita dengar
Semuanya nyata
Apa yang kita fikirkan
Semuanya nyata
Apa yang kita nilai
Semuanya nyata
Apa yang kita guna
Semuanya nyata
Apa yang kita perolehi
Semuanya nyata
Apa yang kita ambil
Semuanya nyata
Apa yang kita kasihi
Semuanya nyata
Apa yang kita buat
Semuanya nyata
Apa yang palsu
Hanyalah diri kita sendiri
Semuanya nyata
Apa yang kita lihat
Semuanya nyata
Apa yang kita rasa
Semuanya nyata
Apa yang kita dengar
Semuanya nyata
Apa yang kita fikirkan
Semuanya nyata
Apa yang kita nilai
Semuanya nyata
Apa yang kita guna
Semuanya nyata
Apa yang kita perolehi
Semuanya nyata
Apa yang kita ambil
Semuanya nyata
Apa yang kita kasihi
Semuanya nyata
Apa yang kita buat
Semuanya nyata
Apa yang palsu
Hanyalah diri kita sendiri
Thursday, 26 December 2013
PESAWAT KERTAS
Sepuluh jari memetik abjad
Duduk bersendirian di dalam ruang yang sepi
Setiap sudut bertelanjangan tiada nada bersahut
Bilaku bunyikan senandung sepi.
Ku menatap layar persegi
Menyiram nukilan yang lama tak di basahi
Walau agak tenang namun masih sunyi
Cuma dengusan nafasku yang menyelubungi.
Ke mana perginya mereka?
Di atas meja tertunggak amanah yang membukit
Siapa yang akan meringaninya?
Adakah aku atau anda yang hilang bagai pelesit?
Bosan memamah diriku
Kertas putih menjadi mangsa kebosanan
Terciptalah sebuah pesawat kertas olehku
Padanya aku tiupkan hasrat yang terpendam
Bilaku melangkah ke luar
terbanglah ia di bawa oleh arus dunia.
Duduk bersendirian di dalam ruang yang sepi
Setiap sudut bertelanjangan tiada nada bersahut
Bilaku bunyikan senandung sepi.
Ku menatap layar persegi
Menyiram nukilan yang lama tak di basahi
Walau agak tenang namun masih sunyi
Cuma dengusan nafasku yang menyelubungi.
Ke mana perginya mereka?
Di atas meja tertunggak amanah yang membukit
Siapa yang akan meringaninya?
Adakah aku atau anda yang hilang bagai pelesit?
Bosan memamah diriku
Kertas putih menjadi mangsa kebosanan
Terciptalah sebuah pesawat kertas olehku
Padanya aku tiupkan hasrat yang terpendam
Bilaku melangkah ke luar
terbanglah ia di bawa oleh arus dunia.
Tuesday, 26 November 2013
Aku Fathur Satriawan: Bahagian Kelima
Sepanjang hari aku berada di dalam masjid sambil memikirkan ke manakah akan aku tuju. Aku tidak mempunyai wang yang cukup untuk berberapa hari tapi akan aku usahakannya. Pada malamnya aku merayau untuk mencari sesuatu buatku jadikan rezeki. Dengan izin-Nya aku diberikan hidayah. Ku ambil kantong yang berada tidak jauh daripada pembuangan sampah dan aku mula mengumpulkan tin-tin minuman yang terbuang. Selama 4 hari aku hidup hanya dengan mencari rezeki sedemikian tapi ianya masih belum cukup untuk hidup di bumi yang serba baru bagiku ini. Setiap malam aku akan berjalan-jalan seperti orang yang kehilangan anaknya namun begitu sebenarnya apa yang aku cari itu adalah masa hadapanku. Seandainya orang ramai memahami perbuatanku ini alangkah indahnya namun sebaliknya mereka akan merasa jijik melihat penampilanku dan akan menjauhkan diri mereka sejauh yang mungkin. Aku bukan orang yang tidak siuman tapi keadaanlah yang membuatkan aku seperti orang yang tidak siuman. Pakaianku cuma ada 3 pasang sahaja. 2 pasang adalah untukku mencari rezeki di luar sana dan 1 pasang lagi adalah khas buatku beribadat kepada-Nya apabila berada di masjid. Tiada yang tahu aku hidup gelandangan begini tapi biarlah hidup gelandangan asal aku tahu di mana aku berdiri dan aku tahu siapa Tuhanku kerana niatku ke tanah ini adalah untuk mencari rezeki.-Fathur Satriawan
Subscribe to:
Posts (Atom)






