Saturday, 25 August 2012

RINDU PERANTAU


Ku jejaki erti hidup
Ku redahi hutan batu
Ku selami lautan manusia
Tapi aku masih terperangkap di bumi yang asing.

Ditelan mati emak
Dibuang mati ayah
Waktu semakin sesak
Hari sepantas kilat berlalu tanpa disedari.

Perantau ini
Yang datang dari seberang Perantau ini
Yang dirindui oleh anak dan isteri tersayang
Perantau ini
Belum bisa pulang kepangkuan.

Ku ingin bersua dengan wajah nan ceria
Dikala takbir bergema
Tapi apa daya diri
Ku hanya melihat senyuman dan tawa diambang pintu kemenangan

Ku usap air mata
Ku kuatkan semangat yang ada
Ku renung gambar insan nun jauh di sana
Ku berdoa agar mereka selamat lagi sejahtera.

Ku berjanji
Suatu saat nanti
Diriku akan pulang ke desa
Mencium anak dan isteri
Menjejak kaki diatas bumi tumpahnya darahku.

2 comments:

  1. "Rindu Perantau" Saya tertarik sekali dengan judul puisinya. Apalagi disuasana Hari Raya ini, seakan-akan hati ini tergamit rindu di negeri bawah bayu ingin bersua sanak saudara di sana, setelah sekian lama tak bertemu.

    "Tapi apakan daya diri
    ku hanya melihat senyum dan tawa diambang pintu kemanangan."

    Begitulah karma, rindu perantau. Kita hanya bsa berdoa agar mereka sehat sejahtera dan sentiasa dalam lindungan Allah selalu di manapun mereka berada. Aminnn.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itulah apa yang dirasai oleh orang-orang yang berada di bumi asing. Suasananya tidak sama seperti di tanah air sendiri. Puisi ini khas karma nukilkan untuk insan yang bergelar perantau yang mencari rezeki jauh dari pandangan mata keluarga.

      Delete