Thursday, 8 March 2012

Aku Fathur Satriawa: Bahagian kedua


Setiap hari yang aku lalui ianya penuh dugaan dan cabaran. Adakalanya keadaan membuatkan diriku menahan sebak di dalam dada. Cemuhan yang disembur oleh segelintir masyarakat serba sedikit membuatkan diri ini terasa hina. Demi menyara hidup sehari-hari, aku belajar bersabar dan tersenyum. Segala perasaan yang terpendam ini aku simpan jauh di lubuk hati daripada pengetahuan anak dan isteriku. Masih aku ingat suatu ketika apabila anakku berkata
' Ayah, di sekolah kawan-kawan Yuli semuanya ada sepatu baru.' Alangkah hibanya hatiku ini disaat itu tambahan pula setelah melihat keadaan sepatunya yang sudah koyak dan bertampang. Walau Yuli tidak meminta dibelikan sepatu baru tapi cara ia berbicara sudah cukup untuk menjadi sindiran terhadap diriku. Aku tidak sampai hati mendengarkan keluhanya itu tapi apa jua caranya aku akan sedaya upaya mendapatkanya sepatu baru. Hingga pada suatu petang sedang aku menyodok longkang, aku terjumpa sepasang kasut yang sudah lama. Aku mengambil dan memeriksanya. Walaupun sudah lama dan kotor tapi sepatunya masih bagus. Lalu aku membersihkanya untuk dibawa pulang sebagai kejutan buat Yuli. Ia sangat gembira menerima sepatu itu tetapi ianya sedikit besar.
'Biarkan saja ia besar, agar nanti tidak usah beli yang baru lagi.' Nyataku kepada Yuli.
Itulah hasrat seorang ayah yang mengharapkan kebahagian orang lain untuk terus tersenyum. Orang lain cuma mampu melihat kita dari luaran tapi dalaman tiada yang mengerti. - Fathur Satriawan

No comments:

Post a Comment